Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

TOKSIKOLOGI NARKOTIKA


TOKSIKOLOGI

NAMA : Yuniana Setyani
NIM    : A.101.14.059

v  Soal
1.      Apa yang anda ketahui tentang tes urin atau tes laboratorium lainnya dalam menghadapi tes penyalahgunaan obat ?
2.      Sebutkan dan terangkan gejala-gejala ketergantungan obat !
3.      Sebutkan obat-obat yang di salahgunakan !
4.      Sebutkan dan jelaskan terapi ketergantungan obat yang anda ketahui !

v  Jawaban
1.      Tes urin hanyalah sebagai uji saring, sedangkan uji konfirmasi harus menggunakan alat Gas Chromatography / mass spectrometry  Dikatakan bahwa angka positip palsu pada pemeriksaan tes urin sangat bervariasi tinggi, dari 4% hingga 50%. Penyebab positip palsu dapat terjadi sebagai akibat dari prosedur laboratorium yang tidak tepat, sample tertukar atau tercampur, pencatatan yang tak beres, inhalasi pasif, reaksi silang (cross-reaction) obat. Hugh Hansen melaporkan adanya kesalahan positip palsu sebesar 0-6% untuk barbiturate, 0-37% untuk Amfetamin, 0-6% untuk Kokain, dan 0-10% untuk morfin.
2.      Gejala-Gejala Pemakaian Narkoba Yang Berlebihan
1)       Opiat (heroin, morfin, ganja)
-   perasaan senang dan bahagia
-   acuh tak acuh (apati)
-   malas bergerak
-   mengantuk
-   rasa mual
-   bicara cadel
-   pupil mata mengecil (melebar jika overdosis)
-   gangguan perhatian/daya ingat.
2)      Ganja
-   rasa senang dan bahagia
-   santai dan lemah
-   acuh tak acuh
-   mata merah
-   nafsu makan meningkat
-   mulut kering
-   pengendalian diri kurang
-   sering menguap/ngantuk
-   kurang konsentrasi
-   depresi 
3)      Amfetamin (shabu, ekstasi)
-   kewaspadaan meningkat
-   bergairah
-   rasa senang, bahagia
-   pupil mata melebar
-   denyut nadi dan tekanan darah meningkat
-   sukar tidur/ insomnia
-   hilang nafsu makan 
4)      Kokain
-   denyut jantung cepat
-   agitasi psikomotor/gelisah
-   euforia/rasa gembira berlebihan
-   rasa harga diri meningkat
-   banyak bicara
-   kewaspadaan meningkat
-   kejang
-   pupil (manik mata) melebar
-   tekanan darah meningkat
-   berkeringat/rasa dingin
-   mual/muntah
-   mudah berkelahi
-   psikosis
-   perdarahan darah otak
-   penyumbatan pembuluh darah
-   nystagmus horisontal/mata bergerak tak terkendali
-   distonia (kekakuan otot leher) 
5)       Alkohol
-   bicara cadel
-   jalan sempoyongan
-   wajah kemerahan
-   banyak bicara
-   mudah marah
-   gangguan pemusatan perhatian
-   nafas bau alkohol 
6)      Benzodiazepin (pil nipam, BK, mogadon)
-   bicara cadel
-   jalan sempoyongan
-   wajah kemerahan
-   banyak bicara
-   mudah marah
-   gangguan pemusatan perhatian
3. Obat yang sering disalahgunakan
1)      Opana oxymorphone
Digunakan oleh medis untuk penghilang rasa sakit. Seseorang yang menyalahgunakannya akan merasa super rileks, karena sistem saraf dan otaknya dipengaruhi oleh zat yang terkandung didalam opana oxymorphone.
2)      OxyContin oxycodone
Merupakan obat yang berbahaya Obat ini memberikan penggunanya rasa bahagia, euforia, seperti di 'surga' yang efek candunya hampir tak ada yang menandingi di dunia narkotika. Pada pertengahan-90an Perusahaan farmasi  Purdue memproduksi OxyContin. Efek buruk dari obat ini adalah rusaknya sistim organ, gangguan psikis bahkan kematian. OxyContin sekarang diproduksi melalui formula yang jauh lebih sulit untuk menghindari penyalahgunaan.
3)      Laudanum tincture of opium
Dibuat dari campuran alkohol dari opium bubuk. Zat Laudanum juga terdapat di dalam kodein, morfin, dan etanol. Pada jaman dulu obat ini bebas dijual dipasaran dan legal tetapi semakin kesini fungsinya banyak disalahgunakan. Terkenal di Inggris, Eropa dan China. Laudanum diresepkan utuk bayi yang baru lahir dan ibu yang habis melahirkan.
4)      Adderall mixed amphetamine salts
Digunakan untuk meningkatkan kinerja otak. Karena obat ini bila dikonsumsi secara berlebih akan mengoptimalkan fungsi otak, seperi doping untuk otak, menambah semangat belajar dan relaksasi tetapi efek buruknya obat ini akan merusak otak dan jaringannya.
5)      Narcotic syrups codeine and hydrocodone
Resep untuk obat batuk sirup (seperti Tussoinex dan Phenergan) sebenarnya mengandung narkotika seperti kodein dan xanax. Bila disalahgunakan seperti obat lainnya, obat ini menanamkan efek fly, gembira, senang, dan santai. Efek buruknya adalah bisa menghancurkan organ-organ tubuh pemakainya dengan cepat.
6)      Desoxyn methamphetamine
Digunakan untuk pengobatan ADHD, serta obesitas (kelebihan berat badan) untuk efek menekan nafsu makan, jika disalahgunakan obat ini bisa membuat diri tak terkendali dan hilang ingatan untuk sementara.
7)      Xanax alprazolam
Penyalahgunaan Clobazam sangat umum untuk mengobati stres dan kecemasan, tapi cukup butir saja. Seorang dokter akan memberikan resep Xanax untuk pasien gangguan ingatan, insomnia, dan, yang lebih jarang, gangguan psikis,disalahgunakan untuk meningkatkan keramahan dan membuat orang yang 'menggunakannya' idak ingat apa tetapi sadar.
8)      Dilaudid hydromorphone
Diresepkan untuk rasa sakit (dan kadang-kadang batuk parah).
9)      Seroquel quetiapine
Digunakan untuk skizofrenia, gangguan bipolar, dan insomnia.Orang yang menyalahgunakannya akan merasa rileks dan keluar dari "perjalanan buruk" hidupnya, tapi itu hanya sementara.
10)  Ambien zolpidem
4. Terapi ketergantungan obat
·         Model Terapi Moral
Model ini sangat umum dikenal oleh masyarakat serta biasanya dilakukan dengan pendekatan agama/moral yang menekankan tentang dosa dan kelemahan individu. Model terapi seperti ini sangat tepat diterapkan pada lingkungan masyarakat yang masih memegang teguh nilai-nilai keagamaan dan moralitas di tempat asalnya, karena model ini berjalan bersamaan dengan konsep baik dan buruk yang diajarkan oleh agama. Maka tidak mengherankan apabila model terapi moral inilah yang menjadi landasan utama pembenaran kekuatan hukum untuk berperang melawan penyalahgunaan narkoba.
·         Model Terapi Sosial
Model ini memakai konsep dari program terapi komunitas, dimana adiksi terhadap obat-obatan dipandang sebagai fenomena penyimpangan sosial (social disorder). Tujuan dari model terapi ini adalah mengarahkan perilaku yang menyimpang tersebut ke arah perilaku sosial yang lebih layak. Hal ini didasarkan atas kesadaran bahwa kebanyakan pecandu narkoba hampir selalu terlibat dalam tindakan a-sosial termasuk tindakan kriminal. Kelebihan dari model ini adalah perhatiannya kepada perilaku adiksi pecandu narkoba yang bersangkutan, bukan pada obat-obatan yang disalahgunakan. Prakreknya dapat dilakukan melalui ceramah, seminar, dan terutama terapi berkelompok (encounter group). Tujuannya tidak lain adalah melatih pertanggung-jawaban sosial setiap individu, sehingga kesalahan yang diperbuat satu orang menjadi tanggung-jawab bersama-sama. Inilah yang menjadi keunikan dari model terapi sosial, yaitu memfungsikan komunitas sedemikian rupa sebagai agen perubahan (agent of change.
·         Model Terapi Medis
Model ini berakar dari beberapa konsep dalam teori fisiologis atau metabolisme, yang memandang perilaku adiksi obat sebagai sesuatu yang terjadi karena faktor etiologis atau keturunan. Ada dua macam model terapi yang berdasarkan pada konsep ini.
Pertama, yaitu konsep menyembuhkan kecanduan obat dengan menggunakan obat lain. Contohnya adalah model terapi metadon untuk pecandu opiat. Terapi ini didasarkan pada sebuah teori dari Dole dan Nyswander yang menyatakan bahwa kecanduan opiat adalah hasil dari defisiensi metabolik, sehingga harus diluruskan dengan memberikan metadon.
Kedua, yaitu konsep menyembuhkan kecanduan obat dengan cara memandang adiksi obat sebagai suatu penyakit. Dari pendekatan teori biologis ini lahirlah konsep "disease" yang apabila diterjemahkan artinya adalah "penyakit", atau bisa juga diartikan sebagai rasa tidak nyaman. Terapi untuk konsep "penyakit" ini sangat berbeda dengan terapi yang melihat perilaku adiksi sebagai penyimpangan sosial. Dalam terapi ini seorang pecandu dianggap sebagai pasien, dimana mereka akan dibina dan diawasi secara ketat oleh tim dokter. Kelemahan dari terapi ini adalah sifatnya yang "keras", dimana pasien direhabilitasi dengan konsep alergi. Karena pasien mempunyai alergi terhadap narkoba, maka mereka tidak boleh mengkonsumsinya seumur hidup.
Menyadari keterbatasan ini, maka konsep adiksi sebagai penyakit sangat mementingkan perkumpulan (fellowship) dari mereka yang mempunyai penyakit kecanduan narkoba untuk menjadi pendukung satu sama lain.
·         Model Terapi Psikologis
Model ini diadaptasi dari teori psikologis Mc Lellin, dkk yang menyebutkan bahwa perilaku adiksi obat adalah buah dari emosi yang tidak berfungsi selayaknya karena terjadi konflik, sehingga pecandu memakai obat pilihannya untuk meringankan atau melepaskan beban psikologis itu. Model terapi ini mementingkan penyembuhan emosional dari pecandu narkoba yang bersangkutan, dimana jika emosinya dapat dikendalikan maka mereka tidak akan mempunyai masalah lagi dengan obat-obatan. Jenis dari terapi model psikologis ini biasanya banyak dilakukan pada konseling pribadi, baik dalam pusat rehabilitasi maupun dalam terapi pribadi.
·         Model Terapi Budaya
Model ini menyatakan bahwa perilaku adiksi obat adalah hasil sosialiasi seumur hidup dalam lingkungan sosial atau kebudayaan tertentu. Dalam hal ini, keluarga seperti juga lingkungan dapat dikategorikan sebagai "lingkungan sosial dan kebudayaan tertentu".
Dasar pemikirannya adalah, bahwa praktek penyalahgunaan narkoba oleh anggota keluarga tertentu adalah hasil akumulasi dari semua permasalahan yang terjadi dalam keluarga yang bersangkutan. Sehingga model ini banyak menekankan pada proses terapi untuk kalangan anggota keluarga dari para pecandu narkoba tersebut.

DAFTAR PUSTAKA
www.freewebs.com/kimiadb2/jenis_narkotika.doc
http://www.dinkes.jogjaprov.go.id/index.php/clabkes/read/67.html

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Poskan Komentar